Pemeriksaan Klinis Shin Splint (Tibial Stres Sindrom)



Sobat secangkir terapi kasus cedera pada tulang kering atau disebut juga dengan Shin splint atau Stres Sindrom Tibia kebanyakan terjadi pada pelari, penari dan kasus trauma, mengenai pemeriksaan klinis akan kami jelaskan berikut ini.



Pemeriksaan Penyakit Shin Splint (Tibial Stress Syndrome)




Definisi


Shin splint adalah peradangan pada otot, tendon dan jaringan tulang di sekitar tulang kering (tibialis) akibat overuse dan cedera berulang pada daerah posteromedial dan anteromedial.

Nyeri pada umumnya terjadi pada perbatasan antara tulang tibia atau tulang kering dimana otot melekat ke tulang disebut juga dengan penyakit Tibial Stress Syndrome.

Epidemiologi

  • 10-15 % terjadi pada pelari, penari
  • 60 % terjadi pada trauma di tungkai
  • Prevalensi laki-laki dan perempuan dalam penyakit shin splint adalah hampir sama atau seimbang

Anamnesa

Pasien datang dengan keluhan nyeri pada bagian distal dan posteromedial tibia dimana posisi berdiri terasa sakit, lokasi nyeri terlokalisir di tulang kering.

Umur penderita adalah 25 tahun pekerjaan adalah atlet lari maraton dan mempunyai hobi lari selain itu penderita mempunyai hobi yaitu skate board dimana sering mengalami cedera pada tulang kering.


Pemeriksaan Fisik Dan Penunjang

Pemeriksaan Fisik
  • Inspeksi: telapak kaki menjadi rata (foot flat)
  • Test cepat: tidak ada tanda yang jelas
  • Test gerak aktif: nyeri pada gerakan dorso fleksi
  • Test gerak pasif: nyeri pasif ke arah plantar fleksi
  • Test gerak isometrik: Gerak isometrik nyeri pada saat dorso fleksi
  • Test khusus : palpasi pada bagian tepi tulang tibia terjadi nyeri yang tinggi

Pemeriksaan Penunjang

Tidak memerlukan pemeriksaan penunjang, kecuali diagnosa kasus berubah


Diagnosa

Struktur Tubuh dan Fungsi

  • Keterbatasan Gerak (ROM): kekuatan dan daya tahan otot pada nilai Poor (lemah)
  • Pasien tidak mampu melakukan olahraga dan lari dalam waktu yang lama karena menahan sakit
Keterbatasan Aktivitas (ADL)
  • Keterbatasan dalam naik turun tangga
  • Keterbatasan gerak meloncat dimana nyeri terlokalisir pada tulang kering
  • Lari mengalami hambatan
  • Adanya Inflamasi di daerah tulang kering
  • Sakit sewaktu melakukan gerakan stabilitas ankle saat berdiri dan berlari
Partisipasi Restriksi
  • Pekerjaan sebagai Atlet lari untuk sementara berhenti karena nyeri
  • Hobi bermain skate board terpaksa berhenti
  • Ibadah mengalami hambatan
Diagnosa berdasarkan ICF

Adanya gangguan stabilitas pada tumit (ankle) dimana pasien tidak mampu dalam berlari dengan waktu yang lama.


Penatalaksanaan Terapi

Tujuan Terapi
  • Menghilangkan nyeri
  • Meningkatkan nilai ROM
  • Adaptasi Anatomi dan Hipertropi Otot
  • Pasien dapat berlari dan berjalan dengan seimbang
Prinsip Terapi
  • Penguluran pada otot tibialis dan gastrocnemius
  • Penguatan pada otot calf muscle yaitu gastrocnemius 
  • Penguatan invertor dan evertor otot calf muscle
  • Edukasi pasien untuk melatih berdiri dan menyeimbangkan tubuh
  • Edukasi dalam pencegahan dan kontraindikasi penyakit
  • melakukan program terapi untuk kasus shin splint
Kriteria rujukan
  • Dokter
  • Fisioterapi


Prognosa kasus

Derajat kasus shin splint tergantung berat ringan kasus dan derajat nyeri yang dirasakan oleh pasien dimana pada fase pasien istirahat dan melakukan program terapi yang dianjurkan dokter, maka pemulihan cedera cepat dilakukan.

Prognosis akan memburuk apabila penderita masih melakukan hobi dan melakukan pekerjaan sebagai atlet lari, sehingga harus dihentikan untuk perawatan sementara waktu.


Kode Penyakit Shin Splint

  • Kode ICD: 844.9
  • Kode ICF: d4552, d4553, d9201

Related Post

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel