Pemeriksaan Klinis Poliomyelitis

Pemeriksaan Klinis Poliomyelitis

pemeriksaan polio



Sobat secangkir terapi, penyakit polio banyak menyerang pada anak dibawah umur 15 tahun dimana penderita akan mengalami lesi atau kelumpuhan permanen saat dewasa.

Dengan gejala umum yang khas yaitu bentuk tungkai kaki kanan dan kiri berbeda  atau kaki yang lumpuh akan mengalami pengecilan pada volume otot dan jaringan lunak setempat karena pengaruh pola gerak yang statis dalam aktivitas hidup keseharian pasien.

Sehingga memerlukan pemeriksaan klinis untuk menunjang tegaknya diagnosa poliomyelitis.



Pemeriksaan Polio



Definisi

Poliomyelitis adalah penyakit menular akut yang disebabkan oleh virus dengan predileksinya merusak sel anterior masa kelabu pada sumsum tulang belakang (anterior horn cells pada spinal cord) dan batang otak (brain stem) dengan akibat kelumpuhan otot-otot dengan kelumpuhan otot-otot dengan distribusi dan tingkat yang bervariasi serta bersifat permanen.


Epidemiologi

  • Prevalensi kasus poliomyelitis di negara Amerika Serikat terdapat 15.000 sampai 21.000 selama tahun 1950.
  • 1/3 kasus terjadi pada usia kurang dari 15 tahun.
  • 1/3 kasus terjadi pada usia 5-9 tahun.
  • Sisanya terjadi pada usia dibawah 5 tahun.
  • Prevalensi kasus poliomyelitis kurang lebih 5-7 dari 1.000 kelahiran hidup menderita polio.

Anamnesa

Pasien datang dengan keluhan kesulitan dalam menggerakkan kaki dan lemas pada tungkai.

Riwayat trauma tidak ada, jalan mengalami hambatan dimana satu kaki lemas dan terkadang jalan dengan satu kaki diseret dengan gangguan gerak kaki pincang.

Umur penderita 14 tahun, jenis kelamin laki-laki, pekerjaan sebagai pelajar di sekolah menengah pertama di kota Bandung, hobi bermain sepeda.

Belakangan ini penderita tidak mampu menggerakkan tungkai kiri karena lemas, sering merasa lelah dan orang tua penderita tidak tahu apa yang terjadi.

Keluhan dirasakan sejak 3 hari yang lalu, oleh sebab itu keluarga pasien membawa penderita ke rumah sakit untuk pengobatan lebih lanjut.


Pemeriksaan Fisik dan Penunjang

Pemeriksaan Fisik
1. Inspeksi
  • Jalan pincang pada tungkai kiri
  • Postur penderita menjadi lemah dengan kelayuan pada tungkai dan tangan sebelah kiri menjadi keras dan susah ditekuk
2. Palpasi
  • Suhu badan normal
  • Tidak ada nyeri gerak pada ekstremitas tubuh yang lumpuh
3. Gerak aktif
  • Gerakan fleksi dan ekstensi kaki tidak ada respon gerak atau lemas
  • Berjalan harus merambat di dinding atau harus menyeret kaki agar bisa jalan
4. Gerak pasif
  • Penderita tidak bisa melakukan gerakan berdiri dengan kaki tampak pincang
  • Gerakan fleksi kaki dan ekstensi mengalami kelemahan
Pemeriksaan Khusus

1. Tes ROM
  • Tidak ada keterbatasan gerak di tungkai kiri
  • Hilang kontrol gerakan ROM pada tungkai kiri
  • Tangan kiri menjadi kaku dengan ROM bernila "poor"
2. Tes Loncat

  • Penderita tidak mampu untuk loncat karena kelemahan di tungkai kiri
  • Gerakan menjadi patah-patah saat melangkah kaki atau mulai meloncat
    Pemeriksaan Penunjang

    Tidak memerlukan pemeriksaan penunjang, apabila ada keluhan sekunder maka memerlukan pemeriksaan penunjang yang lebih spesifik.


      Diagnosa

      Struktur Tubuh dan Fungsi
      • Kelemahan pada tungkai kiri
      • Penderita tidak dapat berjalan dengan normal
      • Spasme pada tangan kiri
      • Kehilangan fungsional gerak pada fungsi lutut dan paha
      Keterbatasan Aktivitas Keseharian (ADL)
      1. Tidak ada keterbatasan gerak
      2. Jalan mengalami hambatan dalam menapakkan kaki 
      3. Tidak dapat meloncat
      4. Duduk di lantai dan berdiri mengalami hambatan gerak karena kelumpuhan
      Partisipasi Restriksi
      • Penderita  tidak bisa masuk sekolah karena jalan menjadi berat dan pincang sehingga takut di bully oleh teman sekolahnya.
      • Hobi bermain sepeda tidak dapat dilakukan karena kelemahan pada tungkai kiri
      • Ibadah mengalami hambatan
      Diagnosa Berdasarkan ICF

      Adanya gangguan berjalan karena kelumpuhan pada tungkai bawah


      Rencana Penatalaksanaan Terapi

      Tujuan Terapi
      1. Mencegah kontraktur otot-otot tungkai bawah
      2. Mengembalikan kapasitas fungsional penderita dalam berjalan normal
      Prinsip Terapi
      • Meningkatkan ROM dari ekstremitas bawah
      • Menguatkan otot-otot tungkai bawah
      • Mengembalikan normal gait penderita
      Edukasi
      • Memberikan wawasan kepada keluarga penderita untuk menghindari fungsi statis dari aktivitas keseharian
      • Mengajarkan pola yang benar dalam berjalan 
      • Melakukan latihan anjuran untuk duduk-berdiri agar penderita tidak kehilangan fungsional dari ADL
      Kriteria Rujukan
      • Dokter Umum
      • Dokter Saraf
      • Fisioterapi


      Prognosis

      Prognosis tergantung dari jenis polio (subklinis, non paralitik, paralitik) dan bagian ekstremitas tubuh yang terkena dampak dari kelumpuhan tersebut.

      Prognosis akan menjadi buruk apabila bentuk bulbar (gangguan motorik satu atau lebih dari saraf otak dengan keluhan sekunder yaitu gangguan pernapasan) dimana terdapat infeksi sekunder dari jalan napas.


      Kode Penyakit

      • Kode ICD: -
      • Kode ICF: b4, b7, s1, s4, s7

      Related Post

      Iklan Atas Artikel

      Iklan Tengah Artikel 1

      Iklan Tengah Artikel 2

      Iklan Bawah Artikel