Terapi Pada Anak Myodistropia

Terapi Pada Anak Myodistropia

myodistropia penyebab kelayuan pada otot dan sendi berakibat pasien meninggal


Sobat secangkir terapi, anak yang mengalami gejala myodistropia akan mengalami gangguan tumbuh kembangnya. Dimana fungsi jalan, berdiri dan napas mengalami distropi.

Dalam dunia medis kasus Myodistropia dikenal juga dengan nama yang berbeda - beda:
  1. Pseudo hypertropik 
  2. Erb Palse
  3. Myodistropia progresivea
  4. Distal palse
  5. Myotonia atropica congenita (openheim)
  6. Amyotonia congenita

Pada beberapa kasus anak yang mengalami tumbuh kembang akan, menyebabkan dia kesulitan dalam berjalan dan berdiri. Kasus diatas adalah sama walaupun berbeda dalam penyebutannya.

Secara Etiologi.

Myodistropia adalah penyakit khas yang mengenai otot-otot yang belum diketahui penyebab. Pada umumnya gejala ini bukan karena faktor konginetal namun lebih mengarah pada penyeakit herediter.

Anak-anak itu setelah lahir kelihatan normal, tetapi setelah memasuki umur 3-5 tahun timbulah kelemahan yang sifatnya distropi pada otot kaki. 

Pada jenis myodistropia progresive, maka anak - anak yang terserang itu lama kelamaan akan mengalami penurunan kekuatan otot secara progresive dan akhirnya sedemikian lemah dan meninggal.

Secara Patologi

Anak yang mengalami myodistropia akan tampak kelemahan pada ototnya atau dikenal dengan gejala distropi dan atropi. Gejala lain terjadi degenerasi otot - otot tubuh.

Gejala - Gejala Myodistropia

Pada anak yang lahir normal, setelah mencapai umur 3 atau 4 tahun timbulah kesulitan dan kelemahan sewaktu berjalan. Beberapa kasus lainnya terjadi kekakuan persendian, di area ekstremitas bawah dan ekstremitas atas.

Semakin lama kelemahan timbul dan nampak pasien tidak mampu lagi berdiri dan berjalan. Kekakuan pada mulanya mendera dan akhirnya lambat laun pasien akan mengalami kelumpuhan dan kelemahan yang berujung pada kematian.

Gejala - Gejala Khas Myodistropia Adalah:
  1. Pada waktu duduk, punggung anak membungkuk kedepan, anak sering duduk dan menahan berat badan dengan kedua tangan.
  2. Jika anak tadi baru berdiri dari duduk, maka kadang-kadang dia hanya dapat memegang kakinyadan begitu mengangkat badan, harus dengan bantuan tangan.
  3. Otot - otot scapula menonjol keluar atau disebut wing scapula.
  4. Anak yang duduk tersebut lambat laun akan merayap
  5. Umumnya atropi dan kelemahan dari otot - otot tadi bersifat simetris, suatu gejala yang sifatnya berbeda dengan atropi pada polimyolitis.
  6. Bila terjadi kelemahan, akhirnya pasien akan timbul kekakuan dengan ciri khas persendian menjadi menjadi atropi.
  7. Pada beberapa kasus gejala myodistropia dapat berhenti, tapi dalam beberapa waktu menjadi progresive.

Pada kasus progresive myodistropia, maka pasien juga ditemukan gejala seperti tubercolosis paru (TB Paru). Radang paru tersebut pada anak kecil akan mengalami peradangan dengan memperlemah otot-otot pernapasan.

Dengan kelemahan pada otot pernapasan, maka harapan hidup anak tersebut sangat tipis. Sebab sifatnya progresive semakin lama semakin lemah dan tak berdaya. Ditemukan juga reflek - reflek pada otot - otot tangan dan kaki juga terjadi kelemahan.

Prognosa Kasus:

Prognosa pasien myodistropia sangat jelek dan pada umumnya pasien akan meninggal jika memasuki umur 20 tahun, namun prognosa akan menjadi baik jika anak tadi berumur 20 tahun keatas.

Terapi Pada Myodistropia.

Dokter biasanya memberikan suntikan hormon dan vitamin untuk menjaga tubuhnya dari kelemahan atau hanya memperpanjang masa hidupnya di dunia.

Fisioterapi memberikan terapi pada pergerakan sendi di area ekstremitas atas dan ekstremitas bawah, yaitu menjaga ROM (Range of Motion) dan menjaga fleksibilitas persendian.

Ahli Gizi memberikan nutrisi yang bergizi dan memantau tingkat mall nutrisi pada pasien myodistropia.

Apabila pasien Myodistropia terserang TB paru, maka pasien harus segera di karantina di unit khusus anak yang terserang TB dan dilakukan pengobatan yang tepat agar harapan hidup anak tinggi.

Pasien Myodistropia dan Poliomyelitis mempunyai persamaan namun berbeda. 
Uraian selanjutnya akan saya sambung di bab poliomyelitis.

Semoga artikel kami membantu dalam mengenal pasien Myodistropia.

Related Post

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel